NIAT BEBAS BERUJUNG HIJRAH
Bagaikan pisang yang tidak akan pernah berbuah untuk yang kedua kalinya, begitulah prinsip hidupku, tidak, lebih tepatnya prinsipku dalam mencintai seseorang. Seumur hidupku aku hanya pernah satu kali jatuh cinta dan pacaran dengan seorang laki-laki yang pada awalnya adalah musuh beratku dan aku sangat membencinya, namun benar kata orang “benci bisa berubah menjadi cinta” begitulah yang kurasa saat aku duduk dibangku sekolah tepatnya kelas VIII Mts.
Aku seorang gadis berdarah Medan dan Melayu yang dipanggil sari. Sebagai seseorang gadis melayu dicintai seorang laki-laki yang gagah dan sholeh adalah suatu kebanggaan bagiku, sehingga aku begitu sangat menyanyangi seorang laki-laki yang berinisial I.L, dia tepatnya adalah pacarku. Dia sangat baik dan perhatian dan itu bukan hanya kepadaku tapi juga seluruh keluargaku, hingga entah setan apa yang merasuki tubuhku saat itu, sehingga aku merasa nyaman dan pacaran selama empat tahun dengannya. Setiap hari aku dan dia selalu menghabiskan waktu berdua, waktu itu aku sekolah belum membawa motor sehingga aku selalu dijemput dan diantar olehnya. Hari-hari selalu kami lewati berdua, susah dan senang selalu bersama, dan kami juga saling membantu dan saling berbagi sesama, sehingga hubungan kami baik-baik saja, sampai banyak orang yang iri dan berusaha mengahancurkan hubungan kami, namun sebanyak itu pula mereka gagal. Ketika itu kami bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih yang sangat romantis, jadi wajar saja jika omongan kiri dan kanan selalu membicarakan kami yang bukan-bukan, tapi kami tidak pernah ambil pusing dan terlalu menghiraukannya.
Siapa sangka semuanya akan terjadi, hubungan selama empat tahun yang telah kami jalin kandas hanya dalam satu hari. Tepat tanggal 23 April 2015 aku memutuskan untuk mengakhiri semua hubunganku dengannya. Awalnya niatku memutuskannya hanya karena rasa bosan dengan sifatnya yang terlalu posesif terhadapku dan aku ingin bebas darinya, sehingga aku tidak banyak bergaul dengan teman laki-laki sekelasku, bahkan teman perempuanku juga ikut menjauhiku.
Satu tahun berlalu aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya dan bertemu denganya walaupun kami satu sekolahan, dan aku juga saat itu tidak pernah lagi pacaran karena ingin fokus UAN dan aku sudah merasa nyaman dengan kesendirianku saat itu.
Setelah kelulusan SMA aku melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi negeri Universitas Jambi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sasta Indonesia. Banyak ilmu dan pengalaman yang kuperoleh saat aku kuliah terutama ilmu agama dari organisasi kampus, dan dari sanalah aku mendalami semua tentang islam.
Setelah kudalami dan kupahami berbagai ajaran agama islam aku baru menyadari bahwa pacaran itu haram dan aku sangat menyesali kenapa aku bisa jatuh cinta dan sempat pacaran dahulu.
Satu semester telah berlalu aku semakin banyak mendapat ilmu agama dari kakak-kakak seniorku, aku semakin semangat ingin berhijrah, dan beristiqomah dijalan-Nya. Namun aku juga tidak bisa munafik di semester empat aku kembali jatuh cinta pada seorang laki-laki kelahiran 1996 yang dua tahun lebih tua dariku, aku takut akan mengulangi kesalahan yang kedua kali karena mencintai seseorang. Namun kali ini aku mencintai seorang laki-laki yang memiliki nama berinisial M.A dengan cara berbeda, aku mencintainya hanya dengan cara diam dan dalam doa karena aku takut akan berbuat dosa. Walaupun aku dan dia sudah lama saling mengenal namun rasa itu baru tumbuh setelah aku benar-benar dekat dengan ALLAH.
Setiap kali kedua tanganku selesai sujud aku selalu berdoa untuk kedua orangtuaku, saudaraku, diriku sendiri, dan selalu kuselipkan doa juga untuknya. Aku tidak banyak berharap bahwa dia akan menjadi jodohku, namun aku selalu berharap kepada ALLAH “Jika dia adalah orang yang mampu mendekatkan aku kepada cinta-Mu maka satukanah aku dan dia, tetapi jika tidak maka jadikan dia orangnya.”
Sekarang umurku sudah 19 tahun, aku sudah menanamkan niat dalam diriku bahwa aku tidak ingin pacaran dan menghabiskan waktu dengan orang yang belum tentu jodohku, aku takut akan murka-Nya, sehingga aku saat ini hanya ingin mencintai dan mengagumi sesorang yang aku sayangi denan cara diam dan hanya dalam doa, karena aku yakin jodoh ada ditangan ALLAH dan jodoh itu takkan pernah tertukar. Saat ini aku hanya ingin berusaha memperbaiki diriku dan berusaha untuk selalu istiqomah agar aku menjadi wanita yang lebih baik, dan supaya nantinya mendapatkan jodoh yang baik pula.
Cinta yang kuharapkan dan doa yang selalu kupanjatkan setiap waktu, yang kumiliki saat ini adalah anugerah terindah yang aku dapatkan dari ALLAH, setelah mengenalnya, walau jarak kami begitu jauh namun aku selalu merasakan kehadiran cintanya dalam hidupku, semoga ALLAH mempersatukan cintaku dengan tulang rusukku dalam doa yang selalu kupanjatkan setiap waktu kepada-Nya. Aamiin.
By:Sarironald
Bagaikan pisang yang tidak akan pernah berbuah untuk yang kedua kalinya, begitulah prinsip hidupku, tidak, lebih tepatnya prinsipku dalam mencintai seseorang. Seumur hidupku aku hanya pernah satu kali jatuh cinta dan pacaran dengan seorang laki-laki yang pada awalnya adalah musuh beratku dan aku sangat membencinya, namun benar kata orang “benci bisa berubah menjadi cinta” begitulah yang kurasa saat aku duduk dibangku sekolah tepatnya kelas VIII Mts.
Aku seorang gadis berdarah Medan dan Melayu yang dipanggil sari. Sebagai seseorang gadis melayu dicintai seorang laki-laki yang gagah dan sholeh adalah suatu kebanggaan bagiku, sehingga aku begitu sangat menyanyangi seorang laki-laki yang berinisial I.L, dia tepatnya adalah pacarku. Dia sangat baik dan perhatian dan itu bukan hanya kepadaku tapi juga seluruh keluargaku, hingga entah setan apa yang merasuki tubuhku saat itu, sehingga aku merasa nyaman dan pacaran selama empat tahun dengannya. Setiap hari aku dan dia selalu menghabiskan waktu berdua, waktu itu aku sekolah belum membawa motor sehingga aku selalu dijemput dan diantar olehnya. Hari-hari selalu kami lewati berdua, susah dan senang selalu bersama, dan kami juga saling membantu dan saling berbagi sesama, sehingga hubungan kami baik-baik saja, sampai banyak orang yang iri dan berusaha mengahancurkan hubungan kami, namun sebanyak itu pula mereka gagal. Ketika itu kami bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih yang sangat romantis, jadi wajar saja jika omongan kiri dan kanan selalu membicarakan kami yang bukan-bukan, tapi kami tidak pernah ambil pusing dan terlalu menghiraukannya.
Siapa sangka semuanya akan terjadi, hubungan selama empat tahun yang telah kami jalin kandas hanya dalam satu hari. Tepat tanggal 23 April 2015 aku memutuskan untuk mengakhiri semua hubunganku dengannya. Awalnya niatku memutuskannya hanya karena rasa bosan dengan sifatnya yang terlalu posesif terhadapku dan aku ingin bebas darinya, sehingga aku tidak banyak bergaul dengan teman laki-laki sekelasku, bahkan teman perempuanku juga ikut menjauhiku.
Satu tahun berlalu aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya dan bertemu denganya walaupun kami satu sekolahan, dan aku juga saat itu tidak pernah lagi pacaran karena ingin fokus UAN dan aku sudah merasa nyaman dengan kesendirianku saat itu.
Setelah kelulusan SMA aku melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi negeri Universitas Jambi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sasta Indonesia. Banyak ilmu dan pengalaman yang kuperoleh saat aku kuliah terutama ilmu agama dari organisasi kampus, dan dari sanalah aku mendalami semua tentang islam.
Setelah kudalami dan kupahami berbagai ajaran agama islam aku baru menyadari bahwa pacaran itu haram dan aku sangat menyesali kenapa aku bisa jatuh cinta dan sempat pacaran dahulu.
Satu semester telah berlalu aku semakin banyak mendapat ilmu agama dari kakak-kakak seniorku, aku semakin semangat ingin berhijrah, dan beristiqomah dijalan-Nya. Namun aku juga tidak bisa munafik di semester empat aku kembali jatuh cinta pada seorang laki-laki kelahiran 1996 yang dua tahun lebih tua dariku, aku takut akan mengulangi kesalahan yang kedua kali karena mencintai seseorang. Namun kali ini aku mencintai seorang laki-laki yang memiliki nama berinisial M.A dengan cara berbeda, aku mencintainya hanya dengan cara diam dan dalam doa karena aku takut akan berbuat dosa. Walaupun aku dan dia sudah lama saling mengenal namun rasa itu baru tumbuh setelah aku benar-benar dekat dengan ALLAH.
Setiap kali kedua tanganku selesai sujud aku selalu berdoa untuk kedua orangtuaku, saudaraku, diriku sendiri, dan selalu kuselipkan doa juga untuknya. Aku tidak banyak berharap bahwa dia akan menjadi jodohku, namun aku selalu berharap kepada ALLAH “Jika dia adalah orang yang mampu mendekatkan aku kepada cinta-Mu maka satukanah aku dan dia, tetapi jika tidak maka jadikan dia orangnya.”
Sekarang umurku sudah 19 tahun, aku sudah menanamkan niat dalam diriku bahwa aku tidak ingin pacaran dan menghabiskan waktu dengan orang yang belum tentu jodohku, aku takut akan murka-Nya, sehingga aku saat ini hanya ingin mencintai dan mengagumi sesorang yang aku sayangi denan cara diam dan hanya dalam doa, karena aku yakin jodoh ada ditangan ALLAH dan jodoh itu takkan pernah tertukar. Saat ini aku hanya ingin berusaha memperbaiki diriku dan berusaha untuk selalu istiqomah agar aku menjadi wanita yang lebih baik, dan supaya nantinya mendapatkan jodoh yang baik pula.
Cinta yang kuharapkan dan doa yang selalu kupanjatkan setiap waktu, yang kumiliki saat ini adalah anugerah terindah yang aku dapatkan dari ALLAH, setelah mengenalnya, walau jarak kami begitu jauh namun aku selalu merasakan kehadiran cintanya dalam hidupku, semoga ALLAH mempersatukan cintaku dengan tulang rusukku dalam doa yang selalu kupanjatkan setiap waktu kepada-Nya. Aamiin.
By:Sarironald
No comments:
Post a Comment