Selamat pagi adik-adik , Hri ini ketemu lagi dengan kakak, kak akan menceritakan dongeng hari ini , adik-adik mau mendengarkan nya bukan. judul dongeng kkak hari ini yaitu.
INDAHNYA PERSAHABATAN
Tersebutlah di sebuah hutan di gunung
tampak indah pemandangannya. Ada binatang, tumbuhan dan ada juga sumber air.
Binatang-binatang itu hidup rukun satu sama lain, mereka bernyanyi, berayun dan
melompat-lompat dari satu pohon ke pohon yang lain.
Tidak jauh
dari hutan ada beberapa pemukiman penduduk dan mereka bekerja sebagai pencari
kayu bakar di hutan, mereka menebang pohon-pohon besar, memetik buah, daun dan
rumput untuk dimanfaatkan dan dijual ke kota. Setiap hari mereka melakukan
pekerjaan itu tanpa memikirkan akibatnya
Hari berganti dan musimpun berganti, maka tibalah
musim kemarau, hutan yang semula hijau dan subur, lama kelamaan berubah menjadi
hutan yang gundul dan tandus. Di hutan yang kini tandus hiduplah kawanan
binatang, diantaranya mereka ada seekor burung yang baik hati dan suka menolong
namanya Nuri, dan temannya seekor anak kelinci yang lemah lembut namun gigih dan
pantang menyerah namanya Cici
Suatu hari
Cici sedang berjalan tertatih-tatih sambil merintih dengan suara lirih, hi ….
hi …. hi …. aduh sakiiit …. perutku rasanya melilit …. , begitu seterusnya
rintihan dari mulut mungil Cici. Dari kejauhan tampak seekor burung sedang
melayang-layang, tiba-tiba mendengar suara rintihan segera terbang rendah lalu
mendekati Cici dan menyapa dengan ramah, “Hei Cici …. bagaimana kabarmu,
mengapa kamu merintih seperti itu ?”
“Oh rupanya
kamu yang datang Nuri, kabarku baik-baik saja, tapi saat ini perutku sedang
sakit, rasanya melilit perih.” Jawab Cici. Mendengar keluhan seperti itu, lalu
Nuri menawarkan diri untuk membantu. “Cici … mengapa perutmu sakit, sudah
diobati apa belum, maukah ku antar ke dokter ?” ajak Nuri. Tapi Cici menolak.
“Maaf Nuri
bukan aku tidak mau ke dokter, tapi sakit perutku ini karena aku lapar. Sudah 2
hari aku belum makan.” Kata Cici.
Lalu Cici
menerangkan bahwa di hutan ini sudah tidak ada air atau tumbuhan. Bahkan
rumput-rumput sudah mati kering karena musim kemarau yang panjang. Jadi tidak
ada satu pun yang bisa dimakan. Mendengar penuturan Cici seperti itu Nuri
merasa kasihan, diajaknya Cici berjalan beriringan menuju gua, disana mereka
bisa duduk dan beristirahat sambil berpikir bagaimana caranya supaya dapat
makanan.
“Cici….maukah
saya ajak ke hutan seberang, disana masih ada sedikit sisa rumput dan tanaman
yang tumbuh, nanti bisa untuk mengganjal perutmu yang melilit itu ! Tapi kita
harus berjalan agak jauh dan melewati bukit bebatuan disana!” ajak Nuri. Cici
diam dan berpikir sejenak, dia bimbang apa nanti dia sanggup menempuh
perjalanan sejauh itu, dia menolak ajakan Nuri.
“Maaf Nuri,
aku tidak mau ….! Tempat itu jauh, nanti aku capek dan lelah, dan aku tidak
punya tenaga untuk berjalan jauh.” Kata Cici. Mendengar jawaban Cici, lalu Nuri
terbang untuk melihat keadaan disana, lalu turun lagi dan membujuk Cici.
“Ayolah ….
Cici …. kamu jangan menyerah dulu. Ayo kita coba berjalan pelan-pelan yang
penting kita sampai ditempat tujuan !” Akhirnya hati Cici mulai terbuka dan mau
mengikuti ajakan Nuri.
“Baiklah …
Nuri kalau begitu ayo kita jalan !” Kemudian mereka berdua membaca bismillah
dan berjalan pelan-pelan dan hati-hati karena melewati jalan yang berbatu-batu,
hingga akhirnya sampailah mereka di tepi hutan. Cici terperajat, ternyata
tumbuhan itu ada di bukit yang agak tinggi.
“Ow….sahatku
Nuri, bagaimana mungkin aku bisa naik ke atas sana, sedangkan aku tidak punya
sayap dan lagi pula pesawat terbang tidak lewat sini, bagaimana ini ?” lalu
Nuri terbang mengelilingi tempat itu mencari jalan yang bisa dilewati Cici
dengan mudah dan tidak berbahaya. Tak lama kemudian Nuri menemukan jalan.
“Nah …. itu
dia jalan yang aman menuju hutan.” Gumam lalu dia turun lagi dan menuntun Cici.
“Ayo … Cici
…. kamu melewati halan yang berkelok-kelok itu, terus naik pelan-pelan !” Cici
mengikuti perintah Nuri, hingga akhirnya sampai diatas batu besar, Cici
berteriak “Ow….” apa yang terjadi ? Ternyata Cici terpeleset, untungnya Nuri
segera menolong sehingga dia bisa melompat lagi keatas batu.
“Hati-hati
Cici …. dari batu besar itu lompat lagi sampailah kamu diatas bukit. “1
….. 2 ….. 3 ….. hap !” nuri memberi aba-aba. Dengan sekali melompat maka
sampailah mereka berdua diatas bukit yang masih ada sisa
air dan tumbuhan.
“Sekarang
kita sudah sampai Cici, kita mengucap syukur !” kata Nuri sambil bernapas dan
tersenyum lega Cici mengucapkan syukur kepada Allah.
“Alhamdulllah
…. subhanallah …. terima kasih ya Allah sungguh besar kuasa-Mu.” Lalu mereka
berdua segera mencari tempat yang nyaman sambil mengumpulkan makanan. Cici
mencari rumput dan daun-daunan, sedangkan nuri mencari biji-bijian dan
buah-buahan. Setelah makanan terkumpul, tak lupa mereka selalu berdoa dan Cici
mengajar Nuri makan bersama.
“Nuri
marilah kita makan bersama supaya tenaga kita bisa pulih kembali, tapi ingat
sebelum makan kita berdoa dulu !” ajak Cici. Akhirnya mereka berdua makan
bersama dan tidak kelaparan lagi, dan Cici tidak sakit perut lagi. Memang kita
harus saling menyayangi.
Nah
anak-anakku semua, demikian cerita dari ibu sudah dulu …. ya ….!
Wassalamu’alaikum
warohmatullaahi wabarakatuh …..!
BY ; SITIMAWANSARI